Ketika Masa Terus Berlalu

Kisah Negeri Dagelan

Negara, Birokrasi dan Humanisme Manusia

Posted by hanyandi on February 9, 2010

Negara, Birokrasi dan Humanisme Manusia

Di sebuah warung kopi, seorang kawan bercerita tentang doktrin menjadi PNS. Dari tak boleh mengkritik Negara, harus mendukung kebijakan pemerintah hingga tata perilaku. “Bahkan, saya tertawapun harus diatur, supaya mencerminkan abdi negara,”ujar seorang kawan yang jadi PNS.

Apa benar seperti itu?

Kurang lebih analisanya seperti ini:

NEGARA tidak membutuhkan orang-prang pandai. Negara cuma abdi Negara yang loyali, bahkan monoloyalitas. Karenanya, lembaga birokrasi bukan upaya mendidik PNS tetapi sebagai seleksi orang-orang yang tidak menyimpang: Bertanya jangan aneh-aneh, jika bisa tidak usah; berfikir yang lurus-lurus saja; berpakaian yang ‘rapih’; berperilaku sebaiknya menunduk; daftar hadir harus penuh; pergerakan ditangkar. Lantas, cita-cita diseragamkan: sekolah lagi buat naik pangkat, melihat tanggal gajian, promosi jabatan dll

Supaya Negara tetap terjaga dan tidak diotak-atik, institusi disakralkan. Bahkan lebih suci dari gereja. PNS menjadi peserta sehari-hari: lima hari dalam seminggu, 12 bulan dalam satu tahun. Biasanya tanpa interupsi. Negara tak ubahnya dengan sapi yang disucikan dalam kepercayaan Hindhu. Ia tak boleh diusik, dikritik apalagi dimaki.

Negara telah menjadi simbol sekaligus mitos. Simbol kemenangan kaum the have dan mitos kaum dhuafa menggapai impian. Hirarkinya tegar dan ketat. Terdapat senioritas. Ada stratifikasi yang tak bisa ditinggalkan. Terdapat kelas-kelas social.

Dahulu kala, Machiavelli menganjurkan untuk menutup semua pintu kejujuran. Penguasa yang bijak tak harus memegang janji bila janji akan merugikan dirinya sendiri dan kalau alasan yang mengikat sudah tak ada lagi, tulisnya. Sekarang setelah limaratus tahun ditinggal oleh Machiavelli, manusia lebih bengis dari yang digambarkan Hobbes, manusia adalah serigala bagi yang lain. Seorang novelis Rusia, Dostoyevsky, menyebut bahwa tidak ada perubahan dari manusia sejak ditinggal Yesus sekalipun. Malah semakin licik, semakin edan.

Posted in 1 | No Comments »

Masih Relevankah Kolom Agama Dicantumkan ?

Posted by hanyandi on February 9, 2010

Tulisan ini berawal dari tiga lembar form isian membuka rekening bank. Dalam biodata yang harus diisi lengkap, terdapat kolom agama yang harus diisi, dan saya sendiri bingung. Bukan lantaran saya tidak beragama, tetapi saya lantas berfikir, apakah masih relevan agama pertanyakan.

Kenapa terlintas pikiran semacam itu? Ada empat alasan mendasar, pertama, hidup didunia global dengan semangat multikultural, identitas-identitas primordial dan private, menurut saya cukup disimpan baik-baik dalam relasi-relasi yang bersifat intim, bukan di obral diranah publik. “Hei, aku beragama Islam lo..”. Atau, “ Hei, aku beretnis Bugis..”. Langkah ini akan membuat jarak sosial dan regresi yang ketat. Barangkali, diwilayah damai hal ini bukan permasalahan serius seperti dalam area konflik. Tetapi, wilayah publik kembali menemui goresan-goresan yang semakin dalam karena pengaruh primer tadi.

Kedua, kolom agama bersifat mengkaburkan esensi agama itu sendiri. Bila memahami agama sebagai instrumen menuju spirit religiusitas dan kondisi pasifikasi, kolom ini sangat melecehkan agama. Agama hanya dipandang sebatas urusan administrasi semata. Di masa Orde Baru, hambatan ini cukup besar. Masyarakat yang mengikuti agama diluar lima agama resmi, tidak diakui baik secara administrasi maupun secara tata kepemerintahan. Meskipun Orde itu telah berganti, urusan ini masih berkelanjutan seperti dalam soal perkawinan. UU Perkawinan hanya membolehkan perkawinan sesama agama (endogami). Siasat untuk bisa lepas dan kerap diambil oleh pasangan beda agama dan berencana menikah, adalah pura-pura masuk salah satu agama calon suami atau istri.

Ketiga, agama bukanlah permasalahan kuantitas jamaah. Ia adalah gerakan moral dan spiritual yang berhubungan langsung dengan Tuhan. Hal ini menjadi semakin kabur, ketika negara berkepentingan atas data penduduk termasuk agama ini. Negara mendata siapa beragama anu, dan berapa yang beragama itu. Hal ini hanya berguna bagi kepentingan negara (baca: kepentingan politik), yakni bagaimana menjaga legitimasi kekuasaan di tengah komunitas agama. Kepada agama itu sendiri, hampir tak ada manfaat sama sekali. Justru dengan angka-angka statistik yang diketahui lewat form KTP misalkan, telah mereduksi spirit/roh agama. Agama menjadi urusan bagaimana meningkatkan jumlah masjid daripada membangun hati-hati yang istiqomah. Agama berkutat pada permasalahan berapa orang yang merangkul agama islam dalam misi dakwah atau berapa orang yang yang ikut pada misi pelayanan do’a. Jumlah ini menjadi tolak ukuryang mengaburkan esensi dari fenomena beragama.

Keempat, agama merupakan wilayah yang cair (fluid area), dimana pengalaman-pengalaman spiritual dapat terjadi sewaktu-waktu dalam rentang waktu yang singkat, atau justru tidak terjadi sama sekali. Sebagai wilayah cair, ia bersifat dinamis. Terdapat pergulatan ide-ide besar. Hal ini sangat kontras dengan kolom agama di form-form birokrasi yang bersifat reguler dan statis, hampir tanpa dialog.

Kembali kepada pertanyaan yang mengusik, apakah masih relevan agama pertanyakan dalam urusan-urusan administrasi. Bagaimana ketika anak kecil mendaftar Taman Kanak-Kanak dan ada isian agama? Jika tertulis secara benar isian agama, tentu itu adalah pilihan orang tua, bukan hasil kreasi si anak. Agama menjadi sebuah proses mewarisi bukan proses mencari kebenaran, kedamaian dan Tuhan. Kebiasaan ini yang berkembang hingga dewasa.

Banyak pendapat mempertahankan isian agama dalam form-form resmi seperti si anak kecil tadi ketika mau mendaftar TK. Alasannya, agama harus didik dari dini. Tetapi, ada yang keliru disana. Yang tertanam sejak dini bukan agama sebagai semangat spiritualitas tetapi sebagai semangat instrumen. Bukan sekedar ritual-dan doa sebagai hafalan. Bukankah Ibrahim menemukan jalan spiritualnya sendiri dan itu adalah sunatullah bukan monopoli nabi.

(dari catatan ari saputra_9 Januari 2005)

Posted in 1 | No Comments »

Naikan Tarif Parkir !!!

Posted by hanyandi on February 9, 2010

Naikan Tarif Parkir !!!

Media seakan memoling kenaikan tarif parkir. Serempak menolak. Benarkah tarif parkir harus murah?

Logika pertama, transportasi pribadi di jalanan sudah overload. Bahkan akan stag pada 2014. Jalan sebagai hak semua warga negara, harus dibatasi dan diatur.

Logika kedua,membatasi ini bisa dengan jalan menaikan harga kendaraan,membatasi jumlah kendaraan dan yang terakhir dengan menaikan harga tarif parkir.

Logika selanjutnya, kenaikan harga tarif parkir maka menyebabkan masyarakat enggan membawa kendaraan pribadi. Mereka akhirnya memilih sarana transportasi umum. Mudah dan murah.

Di negara maju, tarif parkir mencapai Rp 50ribu sebanding dengan tarif parkir di Jakarta yang Rp5ribu. Tak cuma itu, tarif parkir di negara maju untuk parkir menginap, dilipatgandakan sehingga masyarakat pun enggan membawa kendaraan.

Bagaimana di Jakarta?
Kendaraan pribadi, khususnya mobil, terlalu dimanjakan oleh pemerintah. Dari harga pajak kendaraan yang murah, jalan yang diberi perlakuan khusus, jalan tol, tempat masuk gedung khusus hingga parkir yang sangat murah.

Jika tak dibatasi dari sekarang, alhasil, jalanan akan menjadi ajang revolusi sosial!!!

Posted in 1 | Tagged: , , | No Comments »

Statistik oh Statistik…

Posted by hanyandi on February 9, 2010

Lembaran laporan bersampul mika warna biru diserahkan Wakil Koordinator ICW
Emerson Yuntho kepada Komisioner Komisi Yudisial (KY), Zainal Arifin. Dengan
suara mantap, Emerson membeberkan statistik putusan hakim di seluruh pengadilan
di Indonesia sepanjang 2005-2009. Hasilnya sangat fantastis, 49, 08% putusan
pengadilan terkait tindak pidana korupsi di bawah naungan Mahkamah Agung bebas.
Tak ayal, ICW mempertanyakan komitmen pemberantasan korupsi oleh hakim MA.

“Kami menilai ada pengaruh mafia peradilan dan transaksi korup dalam proses
persidangan,” kata Wakil Koordinator ICW Emerson Yuntho di Gedung KY, Jalan
Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (19/1/2009).

Alih-alih membeberkan statistik yang fantastis, ICW bisa terjebak pada logika
penelitian yang bias. Dalam buku How to Lie with Statistic(Berbohong Dengan
Statistik), penulis buku, Dariel Huff mengingatkan masyarakat tentang
statistik yang bisa atau malah kerap kali menjadi alat berbohong kepada publik
yang sangat efektif. Salah satu instrumennya adalah sampel yang pada dasarnya
sudah bias.

Ke-bias-an penelitian ICW terlihat pada pengambilan sampel yaitu putusan
pengadilan yang bersifat kualitatif. Sehingga simpulan tidak bisa ditarik
secara kuantitatif yaitu dari banyaknya jumlah koruptor yang masuk penjara.
Apalagi dalam hukum pidana di kenal adagium; lebih baik membebaskan orang yang
bersalah dari pada menghukum orang yang tidak bersalah. “Tidak berdasar laporan
ICW. Laporan itu tendensius,” bela Ketua MA, Harifin Tumpa, Jumat 15 Januari
lalu.

Kedua, jebakan biasnya sampel statistik yang menyamaratakan putusan bebas.
Contohnya kasus anggota DPRD 1999-2004 yang di seret ke meja hijau oleh jaksa
penuntu umum karena membuat Perda. Perda ini dinilai jaksa melanggar hukum meski
akhirnya para anggota DPRD pun dibebaskan.

Ketiga,angka ini fantastis karena di statistik dari tahun ketahun. Pada 2005,
ICW mencatat putusan bebas sebanyak 22,22%, 2006 naik menjadi 32,13%, 2007 naik
menjadi 62,39 %, 2008 menjadi 62,39 % dan 59,26 %. Menjadi lebih fantastis
karena juga disajikan dalam bentuk grafis garis bak indeks saham di Bursa Efek
Indonesia.

Dalam buku yang memporak-porandakan statistik sebagai alat propaganda tersebut,
Dariel Huff mencontohkan statistic banyaknya kecelakaan kereta api dalam satu
tahun. Hasilnya,satu hari, satu orang mati karena menggunakan kereta api.
Lantas, dia buru-buru mengkritik statistic tersebut. Menurutnya, kecelakaan
kerea api (sebagai variable x) harus dipasangkan dengan jumlah perjalanan kereta
api perhari (sebagai variable y). Sehingga yang didapati adalah angka kematian
perorang per sekian ribu km jarak tempuh kereta api.

Jika ICW masih ngotot menggunakan statistic ini, jangan-jangan ICW juga akan
mengeluarkan data statistic : 100% terpidana korupsi yang diputus bebas dilakukan oleh
hakim MA. Dan 100% terpidana korupsi di putus penjara oleh hakim Tipikor.

Posted in 1 | Tagged: , | No Comments »

Jakarta dan Kota yang Sakit (2)

Posted by hanyandi on April 1, 2009

Jakarta dan Kota yang Sakit (2)
Andi Saputra - detikNews

Jakarta - Selain menentang alam, Jakarta menentang siklus manusia. Dengan semakin tingginya mobilitas warga ibukota, Pemprov DKI Jakarta seharusnya jauh-jauh hari menyediakan fasilitas transportasi massal, bukan membangun tol dan penunjang sektor transportasi pribadi.

“Ngapain juga naik TransJakarta, sudah busnya nggak terawat, juga penumpang bergelantungan. Ya mending naik mobil saja,” kata Lina (32), seorang karyawan kantor di Segi Tiga Emas Kuningan kepada detikcom, Senin, (30/3/2009).

Lantas dibangunlah BusTransJ oleh Pemprov DKI sebagai solusi. Apa lacur, sarana ini akhirnya hanya menjadi alat moda transportasi baru layaknya bus patas AC. Alat ini pun tidak mengalihkan pengguna kendaraan roda empat.

“Lebih baik macet-macetan daripada bergelantungan di BusTransJ,” kata pengendara Honda Jazz, Amelia (29), karyawan yang berkantor di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat.

Hal serupa juga dirasakan oleh sopir Mikrolet M 01 jurusan Kampung Melayu-Senen, Bowo (29).

Pasca pengoperasian BusTransJ Kampung Melayu-Ancol, warga Cipinang Baru ini mengaku sepi penumpang.

“Tapi macet tetap. Katanya, BusTransJ buat ngilangin macet. Nyatanya malah nambah saingan doang,” kilah sopir asal Wonogiri ini.

Anehnya, Pemprov DKI Jakarta menyalahkan siswa sekolah sebagai biang kerok kemacetan. Akhirnya, awal tahun ini, siswa SD hingga SLTA di wajibkan masuk sekolah pukul 06.30 WIB.

“Ini mengganggu tumbuh kembang anak,” kata Ketua Komnas Anak, Kak Seto beberapa waktu lalu.

Meski demikian, pengamat Transportasi, Dharmaningtyas justru bangga dengan keberhasilan BusTransJ. Dalam setahun, BusTransJ di 7 koridor mengangkut lebih dari 75 juta penumpang.

“Kalau tak ada BusTransJ, dengan apa ke 75 juta orang tersebut bertransportasi ?,” ujarnya saat evaluasi BusTransJ Koridor VIII di kantor BLU, Jalan Trunojoyo, beberapa pekan lalu.

Posted in Catatan Pinggir | No Comments »

Jakarta dan Kota yang Sakit (1)

Posted by hanyandi on April 1, 2009

Jakarta dan Kota yang Sakit (1)
Andi Saputra - detikNews

Jakarta - Tidak jauh dari Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, Wahyu (32), menatap lekat-lekat televisi. Berkali-kali siaran televisi menayangkan secara langsung bencana Situ Gintung, Tangerang, Banten. Dengan perasaan tidak tentu, dia sesekali menatap bendungan yang tak jauh dari rumahnya.

“Mas, kami tinggal menunggu waktu saja,” kata laki-laki asal Indramayu kepada detikcom, Senin, (30/3/2009).

Kekhawatiran Wahyu yang bekerja sebagai nelayan bukannya tanpa alasan. Sebagai kota yang berada di bawah laut, ancaman tenggelamnya kawasan utara Jakarta sangatlah beralasan. Lebih-lebih, hutan bakau kini nyaris hilang dan berganti menjadi hutan apartemen dan perumahan mewah.

Meski puluhan development selalu beralasan bahwa huniannya ramah lingkungan, tapi siapa yang bisa meredam amarah alam.

Pembangunan yang menentang hukum alam pun terlihat di kawasan Jakarta Barat. Sepanjang Slipi hingga Grogol kini terbentang tower perkantoran, apartemen hingga mal dan hotel. Alhasil banjir selalu menggenang dan melumpuhkan akses jalan.

Rawa di sebelah utara Jakarta pun kini telah disulap menjadi ribuan
bangunan. Di bekas rawa ini, lalu dibangunlah Kelurahan Kelapa Gading Barat dan Kelapa Gading Timur sehingga kawasan bisnis dan hunian elit ini selalu terendam banjir apabila musim penghujan.

Pengalihan fungsi rawa menjadi hunian juga dilakukan di sepanjang Kuningan. Bermodal miliaran rupiah, puluhan apartemen dan tower perkantoran kini berdiri kokoh. Dan karena menentang alam, lagi-lagi kawasan ini harus tenggelam apabila hujan deras melanda.

Di selatan Jakarta, ngarai sungai Krukut kini telah berubah total. Tak kita jumpai kicauan burung seperti era tahun 80-an. Kini tinggal dentuman musik dari puluhan kafe dari kawasan Kemang ini. Bahkan, beberapa tower apartemen telah dibangun persis di lembah sungai.

Selaras dengan pembangun yang tak memperhatikan garis alam, di Gandaria pun telah terpancang pasak bumi. Tak lama lagi puluhan tower apartemen siap menjulang dalam satu kawasan.

Hal serupa juga dilakukan di Kebagusan, Permata Hijau, Casablanca atau Senayan.

“Jadi, jangan salahkan warga bantaran sungai apabila banjir datang. Penyumbang banjir terbesar adalah menyempitnya lahan hijau dengan
dialihfungsikan menjadi Tower dan Apartemen,” kata seorang penggiat
lingkungan hidup, Ahmad Daroyani, beberapa pekan lalu.

Posted in Catatan Pinggir | 2 Comments »

Jakarta dan Kota yang Sakit (3)

Posted by hanyandi on April 1, 2009

Jakarta dan Kota yang Sakit (3)
Andi Saputra - detikNews

Jakarta - Dengan raut wajah kecewa, Leni Kosasih keluar dari ruangan Kanit Reskrim Polsek Kebayoran Baru, Ipda Dian Indra akhir pekan lalu. Ibunda Maria Fransisca Bernadette Elen (22), korban pembunuhan di Pacific Place ini tidak kuasa menahan geram.

“Kalau tidak segera terungkap akan saya beberkan ke masyarakat tentang kinerja polisi,” ancam Leni saat dihubungi wartawan setelah keluar dari Mapolsek Kebayoran Baru, Jalan Kyai Maja, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Kasus pembunuhan Elen, Nasruddin, dan mayat dalam koper yang dibuang di tol serta mutilasi Muara Gembong merupakan beberapa kasus yang hingga kini masih misterius.

Sebagai kota dengan kepadatan penduduk sangat tinggi, heterogenitas serta kesenjangan sosial yang kontras, kejahatan bisa terjadi kapan pun.

Menurut catatan akhir tahun Polda Metro Jaya, dalam setahun kurang lebih 60 ribu kasus kejahatan diterima polisi. Dari data tersebut, tidak sampai 50% yang tertangani, dipetieskan dan tertumpuk berkas-berkas kasus kejahatan yang baru.

Dalam sebulan, minimal ada 5 kasus pembunuhan. Dalam 3 menit sekali, minimal ada satu kejahatan. Demikian hasil repor tahunan 2008 tersebut.

Belum lagi kejahatan yang tak terpantau seperti pelacuran, judi serta “main mata” aparat dan warga. Atau kejahatan yang tak dilaporkan oleh warga karena malas berurusan dengan polisi.

“Ngapain juga dilaporkan, nggak mungkin ketangkap,” kata Safir yang kecopetan HP di bus di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Posted in Catatan Pinggir | No Comments »

Jakarta dan Kota yang Sakit

Posted by hanyandi on April 1, 2009

Jakarta dan Kota yang Sakit (5-habis)
Andi Saputra - detikNews

Sungai di Jakarta yang keruh

Jakarta - Warna sungai Chao Phraya River, Bangkok, Thailand tak jauh beda dengan sungai di negara tropis. Warnanya cokelat lumpur dan sedikit keruh.

Tapi tak ada satupun sampah atau bau busuk layaknya sungai-sungai di Jakarta. Padahal, di sepanjang sungai yang membelah The Grand Palace dan Wat Arun ini pun terdapat beberapa pasar tradisional layaknya Pasar Jatinegara, Jakarta Timur.

Pemandangan sungai bebas sampah ini ada di seluruh Thailand. Tak terkecuali di Floating Market yang berjarak 3 jam perjalanan menggunakan bus atau 1 jam dengan taksi dari Bangkok.

Sebagai kota metropolitan di negara berkembang pun menghadapi masalah yang sama dalam transportasi. Tapi di negara yang terus bergejolak politiknya ini telah mengantisipasi jauh-jauh hari.

Monorel dan subway dibangun guna mencegah pertumbuhan kendaraan pribadi. Karyawan yang hendak bekerja di Bangkok dari luar Bangkok memarkir kendaraannya di central park.

Kemudian dengan jalan kaki, warga melanjutkan perjalanannya menggunakan subway dari Cathuchak Park atau Mo Chit Station. Alhasil, kemacetan di pusat kota bisa terkendali.

Adapun Jakarta, harapan terhadap BusTransJakarta untuk memecahkan kemacetan telah gagal. Apalagi berharap pada monorel dan subway yang tak kunjung dibangun.

Jika di Jakarta ada bajaj, di Bangkok pun mengenal armada serupa, tuk-tuk namanya. Berbeda dengan bajaj, tuk-tuk lebih ramah lingkungan. Tanpa asap hitam mengepul dan dijadikan salah satu armada wisata.

Dalam pembangunan pusat perbelanjaan pun Bangkok selektif. Di kota tersebut, hanya ada 3 pusat perbelanjaan besar. Salah satunya MBK yang berada di pusat kota. Akses nya pun bisa di capai dengan monorel dengan turun di National Stadium Station.

Bandingkan dengan Jakarta. Sepanjang Sudirman-Thamrin saja membentang Blok M Plasa, Blok M Mal, Pasaraya Blok M, Blok M Square, Ratu Plasa, FX, Pacific Place, SCBD, Grand Indonesia, Plasa Indonesia, EX dan Sarinah Plasa. Belum lagi di Kelapa Gading atau sepanjang Cawang hingga Pluit.

Kehabisan lahan, laut pun diuruk. Dari membangun komplek pertokoan, kota mandiri hingga apartemen yang konon mencapai Rp 3 miliar per unitnya. Bahkan seorang pengembang properti, membanggakan hasil karyanya di tepi pantai utara Jakarta itu layaknya Dubai.

Dalam mengelola pariwisata, Jakarta jauh dari kualitas baik. Lihatlah Bangkok yang mengelola Grand Palace secara profesional. Tak ada sampah, sangat terawat, tak ada pengemis, tak ada guide yang menawar paksa pengunjung atau pedagang asongan.

Beda dengan kawasan Kota Tua Jakarta. Kumuh, bau, tak terawat, bangunan banyak yang hancur serta pedagang asongan berada dimana-mana.

Lalu, siapakah yang sakit? Semoga tak perlu menunggu Situ Gintung jilid dua untuk mengingatkannya.

Posted in 1 | Tagged: , | No Comments »

Banana Show

Posted by hanyandi on February 13, 2009

Wisata Malam Bangkok:
Dari Pingpong Show Hingga Banana Show

Dua orang turis laki-laki dari Swiss, Alex,28, dan Bryan, 29, menyeruput dalam-dalam sekaleng bir di tangannya. Matanya pun tak pernah lepas dari suguhan live seks di depannya, seraya 3 perempuan telanjang terus mengapit keduanya.

Di panggung bundar setinggi 1 meter, tak kurang dari 10 perempuan telanjang meliuk-liuk di tiang panggung. Tak berapa lama, salah satu dari mereka memberikan bad ping pong ke kedua laki-laki berambut blonde tersebut.

Setelah itu, sambil telentang menyamping dengan posisi menghadap Alex dan Bryan, ping pong show pun di mulai. Dan, penari itu memasukan sebuah bola ping pong ke (maaf) alat kelaminnya. Dalam hitungan mundur seorang MC, tiba-tiba bola ping pong melesat ke Alex dan Bryan akibat hentakan lobang vagina penari.

Mendapat bola pingpong ini, dipandu oleh 3 pelacur di sampingnya, Bryan memukul bola warna kuning tersebut. Dan bola sebesar telor itupun kembali ke panggung.

Tak hanya sekali, hingga lima kali para pelacur ini memamerkan kekuatan alat kelaminnya melesatkan bola tenis meja itu. “It’s very-very crazy,”komentar Bryan seraya tak percaya kepada detikcom, di salah satu bar di Phat Pong, Bangkok, Thailand, Minggu, (26/1/2009).

Sementara itu, di salah satu pojok ruangan, 3 orang bule laki-laki duduk bersandar rileks. Sebuah cerutu nyaris habis akibat terus di hisap tak henti-hentinya.

Lima meter didepannya, diatas panggung seorang pelacur mengambil sesisir pisang yang masih hijau. Kemudian, dia mengupas salah satu pisang dan memasukan ke (lagi-lagi maaf) alat kelaminnya. Dalam hitungan detik, pisang itupun meluncur ke muka bule. “Shit….,” teriak salah satu dari mereka sambil berusaha menghindari pisang tersebut.

Usai menghempaskan pisang itu, pelacur itupun kembali memasukan pisang ke alat kelaminnya dan menghentakkan ke penonton hingga satu sisir pisang habis. Pisang-pisang itu meluncur bak meriam memuntahkan mesiu.

“I’ts good hah,? ,” tanya MC ke pengunjung.

Dan pertunjukapun terus berlanjut. Sementara salah satu dari kedua laki-laki itu pun telah lenyap seiring lenyapnya satu dari tiga prlacur tersebut.

Posted in 1 | No Comments »

Wisata Malam Bangkok: Tarif Pingpong Show 500 Baht

Posted by hanyandi on February 13, 2009

Wisata Malam Bangkok: Tarif Pingpong Show 500 Baht

Sopir tuk-tuk (sejenis bajaj) yang hendak mengantar detikcom pulang ke hotel di kawasan Shukumvit, Bangkok, Thailand tak henti-hentinya menawarkan Pingpong Show. Dengan logat bahasa Inggris terbata-bata aksen Thai, dia menawarkan live seks dengan semangat.

“Como on… You must see Pingpong Show, Banana Show, Fucking Show…,” ujar Siin, 26, kepada detikcom, Sabtu, (25/1/2009).

Pingpong Show merupakan salah satu live seks di Phat Pong, Bangkok, Thailand. Di kawasan prostitusi seluas Kawasan Gelora Bung Karno ini , juga bisa ditemui live show lain yang mengumbar gairah seks lainnya, dari striptise hingga pijat ekstra plus-plus.

Show yang menonjolkan kekuatan alat kelamin perempuan ini di gelar di lantai dua. Adapun di ruko lantai satu, digunakan sebagai bar ataupun tempat rekreasi syahwat lainnya.

Saat para tamu menyambangi sebuah ruangan di lantai 2 tersebut, puluhan perempuan langsung menyambut tanpa sehelai benangpun. Berbagai rayuan dilakukan dari sekedar pegang tangan atau mencoba meremas alat kelamin. “No…I’just to see Banana Show,” teriak salah satu pengunjung.

Bahkan, para pelacur itu ada yang mengajak bersetubuh dengan menepuk-nepukan kedua tangannya layaknya bahasa Tarzan. Tak mau klien nya pergi, dia juga menunjukan alat kelaminnya. “2OOO Baht. 1 hour, 2 hour… ?,” rayunya ke pengunjung lainnya.

Tak berapa lama, seorang mucikari mendatangi para tamu dan memberikan kuitansi show. 500 Baht untuk pingpong show dan 300 Baht untuk sebotol bir.

Diiringi musik seadanya, dari Backsreet Boys hingga Michail Learns To Rock (MLTR) mengalun di setiap ujung ruangan. Di tengah ruangan berukuran 20 x 10 meter, berdiri panggung bundar setinggi pinggang orang dewasa. Di tepi panggung terdapat 6 tiang kecil guna menari striptise.

Tak kurang dari 50 pelacur terus berkeliaran di sudut-sudut meja. Dari yang hanya memakai BH dan celana dalam saja atau telanjang sama sekali. Kurang lebih satu jam, live seks tersebutpun usai. “Belum ke Bangkok kalau belum ke Phat Pong,” kata seorang teman lewat SMS.

Posted in 1 | No Comments »