Negara, Birokrasi dan Humanisme Manusia
Posted by hanyandi on February 9, 2010
Negara, Birokrasi dan Humanisme Manusia
Di sebuah warung kopi, seorang kawan bercerita tentang doktrin menjadi PNS. Dari tak boleh mengkritik Negara, harus mendukung kebijakan pemerintah hingga tata perilaku. “Bahkan, saya tertawapun harus diatur, supaya mencerminkan abdi negara,”ujar seorang kawan yang jadi PNS.
Apa benar seperti itu?
Kurang lebih analisanya seperti ini:
NEGARA tidak membutuhkan orang-prang pandai. Negara cuma abdi Negara yang loyali, bahkan monoloyalitas. Karenanya, lembaga birokrasi bukan upaya mendidik PNS tetapi sebagai seleksi orang-orang yang tidak menyimpang: Bertanya jangan aneh-aneh, jika bisa tidak usah; berfikir yang lurus-lurus saja; berpakaian yang ‘rapih’; berperilaku sebaiknya menunduk; daftar hadir harus penuh; pergerakan ditangkar. Lantas, cita-cita diseragamkan: sekolah lagi buat naik pangkat, melihat tanggal gajian, promosi jabatan dll
Supaya Negara tetap terjaga dan tidak diotak-atik, institusi disakralkan. Bahkan lebih suci dari gereja. PNS menjadi peserta sehari-hari: lima hari dalam seminggu, 12 bulan dalam satu tahun. Biasanya tanpa interupsi. Negara tak ubahnya dengan sapi yang disucikan dalam kepercayaan Hindhu. Ia tak boleh diusik, dikritik apalagi dimaki.
Negara telah menjadi simbol sekaligus mitos. Simbol kemenangan kaum the have dan mitos kaum dhuafa menggapai impian. Hirarkinya tegar dan ketat. Terdapat senioritas. Ada stratifikasi yang tak bisa ditinggalkan. Terdapat kelas-kelas social.
Dahulu kala, Machiavelli menganjurkan untuk menutup semua pintu kejujuran. Penguasa yang bijak tak harus memegang janji bila janji akan merugikan dirinya sendiri dan kalau alasan yang mengikat sudah tak ada lagi, tulisnya. Sekarang setelah limaratus tahun ditinggal oleh Machiavelli, manusia lebih bengis dari yang digambarkan Hobbes, manusia adalah serigala bagi yang lain. Seorang novelis Rusia, Dostoyevsky, menyebut bahwa tidak ada perubahan dari manusia sejak ditinggal Yesus sekalipun. Malah semakin licik, semakin edan.
Posted in 1 | No Comments »